Kamis, 16 April 2009

Experts suggest low carbon-emitting fuels to reduce global warming

Indonesia should promote the use of fuels with low carbon emissions to minimize the greenhouse effect that leads to global warming, said a biofuels advocate in an alternative energy discussion Monday. Even though Indonesia is not among the countries obliged by the Kyoto Protocol to reduce greenhouse gas emissions, Indonesia should take active measures to address the ongoing impacts of global warming, said Ahmad Safrudin, coordinator of the Joint Committee for Leaded Gasoline Phase-out.

"Indonesia has shown increasing levels of CO2 emissions, including from vehicles. Therefore, we need to participate in global efforts to reduce CO2 emissions by promoting the use of low carbon fuels," Ahmad said.

It is estimated that the Indonesian transportation sector emits 20.9 million tons of CO2 each year.

The figure is expected to reach 38.4 million by 2010 because the number of vehicles, currently around 29 million, could increase 8 to 14 percent per year.

One of the low carbon fuels suggested for use in transportation is the cellulosic ethanol, a type of biofuel produced from high fiber plants such as grasses, sorghum, willow and eucalyptus.

Reginald A. Theijs, senior advisor for hydrogen and fuel cells at the State Ministry for the Development of Disadvantaged Regions, said cellulosic ethanol could be an alternative to renewable energy like the biofuel made of crude palm oil (CPO), jathropa and cassava currently being developed here.

"Cellulosic ethanol can be a solution to fight against global warming ... because vehicles running on this fuel will produce no carbon emission," he said.

"This fuel can be used for cars, ships and aircraft in which engines need to be equipped with fuel cell reactors," he said.

Theijs said the ethanol was processed from sugar extracted from the raw materials. The ethanol can be directly used as fuel or converted into hydrogen.

"It is cheaper and much more environmentally friendly than biofuels from CPO, jathropa and cassava. It is also more powerful for vehicles than compressed natural gas," he said.

Cellulosic ethanol is currently being developed under the state ministry's Community Integrated Utility Program and conducted in disadvantaged regions in Merauke, Papua province. The fuel is used by power generators to produce electricity and clean water.

Ahmad said the government's biofuel policy should be supported by a commitment from the automotive industry to manufacture vehicles able to run on such fuels.

A number of carmakers have announced cars marketed in Indonesia capable of running on biofuels.

Ancaman Logam Maut dari Jalanan



RIBUAN mobil baru yang tiap tahun diluncurkan bisa jadi cuma memberi kenyamanan

semu bagi orang berduit. Di dalam kabin nan sejuk, mereka memang bisa tiduran

nyaman sambil menikmati musik di tengah kemacetan lalu lintas. Tapi, apakah

mereka peduli kalau asap dari knalpot mobilnya menebar racun ke udara, menyusup

ke paru-paru seluruh warga kota, dan menabung efek buruk jangka panjang yang

mengerikan?

Karbon dioksida (CO2) dan karbon monoksida (CO) yang dihasilkan mesin kendaraan

diketahui sebagai gas beracun yang bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan,

bahkan dapat membunuh seketika. Gas-gas itu juga jadi masalah global karena

meningkatkan efek rumah kaca dengan dampak meningkatnya suhu bumi. Unsur lain

dari buangan asap kendaraan yang tak kalah berbahaya adalah timbal, alias timah

hitam, alias plumbum (Pb).

Timbal kini dianggap sebagai ancaman serius karena diketahui telah menyusup ke

dalam darah warga kota, termasuk anak-anak. Logam pencemar dari kendaraan

dengan bahan bakar bensin bertimbal itu bisa terakumulasi dalam tubuh,

menyerang organ-organ penting, bahkan merusak kualitas keturunan. Sejumlah

hasil penelitian menunjukkan bahwa timbal bisa menurunkan tingkat inteligensia.

Berbagai seminar digelar untuk mengingatkan ihwal bahaya timbal seraya mencari

solusinya. Terakhir, seminar bertema "Jejak Langkah Menuju Bensin Tanpa Timbal

2005" yang digelar Komite Penghapusan Bensin Bertimbal dan ASEAN Clean Fuel

Association, di Jakarta, Desember lalu.

Para peneliti timbal dari sejumlah perguruan tinggi, seperti Puji Lestari, Budi

Haryanto, Asrom Hamonangan, dan Darmadi Goenarso, mendesak pemerintah agar

menghapus bensin bertimbal. Tentu saja, sistem transportasi kota harus pula

dibenahi, untuk mengatasi kemacetan yang kian parah.

Budi Haryanto mengatakan, anak-anak --terutama yang berusia kurang dari enam

tahun-- adalah kelompok paling rentan tercemar timbal. "Anak-anak lebih mudah

menyerap timbal karena sistem penolakan tubuhnya terhadap bahan asing belum

sempurna," kata Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Indonesia (UI), itu.

Doktor Puji Lestari dari Jurusan Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung

(ITB) memaparkan hasil penelitiannya yang mencemaskan. "Unsur timbal sudah

masuk darah anak-anak sekolah di Bandung," ujar doktor bidang polusi udara

lulusan Illinois Institute of Technology, Chicago, Amerika Serikat, itu.

Puji melakukan penelitian yang disponsori SIDA (Swedish International

Development and Cooperation Agency) di Bandung sepanjang 1994-2004. Ia

memeriksa kondisi udara dan mengambil sampel darah anak-anak, polisi lalu

lintas, tukang parkir, pedagang kaki lima, dan sopir angkutan umum.

Hasilnya menunjukkan, dari sampel darah 62 anak, 21 di antaranya mengandung

timbal di atas ambang batas yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Ambang batas WHO untuk timbal pada darah anak-anak adalah 10

mikrogram/desiliter (ug/dl), dan pada darah orang dewasa 25 ug/dl.

Pencemaran udara di daerah padat lalu lintas di Bandung, seperti di Alun-alun,

Jalan Braga, Merdeka, Asia Afrika, dan Pasteur, pun sudah melampaui ambang

batas. Di Alun-alun, konsentrasi timbal di udaranya 0,6 - 2,4 ug/m3. Sedangkan

di Jalan Merdeka dan Jalan Ganesha 1.57 ug/m3 dan 0.97 ug/m3. Ambang batas

timbal di udara yang ditetapkan WHO adalah 0,5 ug/m3. "Udara Bandung terjebak

dan sudah teracuni," kata Puji.

Hasil yang lebih mengkhawatirkan diperoleh Survei Ekologi Kesehatan di Bandung

pada 2001 yang dilakukan Profesor Dr. Otto Soemarwoto, guru besar ilmu

lingkungan Universitas Padjadjaran. Pada sampel darah rata-rata anggota polisi

lalu lintas ditemukan timbal 30,66 ug/dl, dan pada sampel darah sopir angkutan

kota 25,23 ug/dl. Sedangkan pada darah warga biasa 12,28 ug/dl.

Otto menyimpulkan, semua warga Bandung sudah tercemari timbal. "Darah gubernur,

wali kota, dan ketua DPRD pun pasti mengandung timbal di atas ambang batas,"

katanya. Otto sendiri mengatakan bahwa darahnya mengandung timbal dengan kadar

34 ug/dl. "Bandung terletak dalam cekungan, sehingga pencemaran udara dengan

tingkat yang sama dengan kota-kota besar lainnya berdampak lebih buruk," kata

Otto Soemarwoto.

Bagaimana dengan Jakarta? Sama, mencemaskan. Lihat saja hasil penelitian Center

for Desease Control and Prevention, bekerja sama dengan UI, pada 2001. Dari

sampel darah 397 anak usia 6-12 tahun, 62% mengandung timbal di atas ambang

batas WHO. Rinciannya: 35% sampel mengandung timbal berkadar 11 ug/dl, 25%

sampel berkadar timbal 14 ug/dl, dan 2,4% lainnya mengandung timbal lebih dari

20 ug/dl.

Hasil penelitian Kantor Pengendalian dan Pemantauan Lingkungan Hidup serta

Fakultas Kesehatan Masyarakat UI pada 1997 menunjukkan, kualitas udara Jakarta

memang payah. Kawasan perempatan Cawang, misalnya, memiliki kadar rata-rata

timbal dalam debu udara lebih dari 30 ug/m3. Udara Tomang dicemari timbal

dengan kadar 25/m3, Lebak Bulus sekitar 23 ug/m3, Kampung Rambutan 21 ug/m3,

Senen 3 ug/m3, dan Pulogadung 1 ug/m3.

Bersyukur, pada 2001 pemerintah mencanangkan program bebas timbal di Jakarta.

Bensin yang dijual di seluruh pompa bensin di Ibu Kota sudah tidak mengandung

timbal. Hasilnya mulai terlihat pada penelitian yang dilakukan Fakultas

Kesehatan Masyarakat UI sejak awal Januari lalu.

Budi Haryanto, koordinator penelitian itu, mengatakan bahwa timnya sudah

mengambil 160 dari target 200 sampel darah anak sekolah dasar di beberapa

kawasan di Jakarta dan sekitarnya. Hasil sementara menunjukkan, kadar timbal

pada darah anak-anak sudah menurun dibandingkan dengan hasil penelitian pada

2001.

Dari semua sampel darah yang sudah diperiksa, hanya 25% yang mengandung timbal

di atas ambang batas WHO. Rata-rata kadar timbal pada tiap sampel darah "cuma"

4,6 ug/dl. Bandingkan dengan rata-rata kadar timbal hasil penelitian 2001 yang

mencapai 8,6 ug/dl.

"Program bebas timbal di Jakarta hasilnya signifikan," kata Budi Haryanto, yang

menyempatkan datang ke Gedung Gatra, Selasa lalu, untuk menjelaskan hasil

sementara penelitiannya. Kandidat doktor bidang epidemilogi itu mendesak

pemerintah agar menghapuskan bensin bertimbal di seluruh wilayah Indonesia.

Kampanye itulah yang sekarang terus digeber Komite Penghapusan Bensin Bertimbal

(KPBB). "Kita sudah ketinggalan oleh negara-negara lain, bahkan oleh para

tetangga," kata Ahmad Safrudin, Koordinator KPBB. Safrudin memaparkan bahwa

Amerika Serikat dan negara-negara Eropa sudah menghapuskan timbal pada bensin

sejak awal 1980-an. Singapura dan Malaysia sudah menghilangkan timbal pada

1990, serta Thailand dan Filipina menyusul setahun kemudian.

Menurut Safrudin, penghapusan bensin bertimbal di Jakarta tak berpengaruh

banyak dalam mengurangi pencemaran. "Siapa yang menjamin semua mobil yang

beredar di Jakarta membeli bensinnya di Jakarta?" katanya. Padahal, pompa-pompa

bensin di luar Jakarta masih menjual bensin bertimbal. Dan, sebagian besar

mobil yang berseliweran di Jakarta berasal dari wilayah Bogor, Depok,

Tangerang, dan Bekasi.

Muhamad Rudi Wahyono dari Pusat Informasi Timbal Indonesia (Indonesia Lead

Information Center) mengatakan, 70% polutan timbal di Jakarta diperkirakan

berasal dari asap kendaraan. Saat ini, jumlah kendaraan bermotor di Ibu Kota

mencapai 4.150.000 unit. Tingkat pertumbuhannya rata-rata di atas 5% per tahun.

"Kondisi itu diperparah dengan upaya perawatan kendaraan yang tidak memadai,"

ujar Rudi. Pemeriksaan emisi kendaraan yang dilakukan Kementerian Lingkungan

Hidup di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi membuktikan, sekitar 60%

kendaraan yang diperiksa tidak memenuhi ambang batas emisi gas buang.

Menteri Lingkungan Hidup telah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 141 Tahun

2003 tentang Baku Mutu Emisi Kendaraan Tipe Baru. Dalam keputusan itu

dinyatakan, mulai Januari 2005 setiap kendaraan dengan tipe baru wajib mematuhi

standar emisi EURO 2. Sedangkan tipe lama yang sudah terjual diberi kesempatan

melakukan penyesuaian hingga 2007. Dengan demikian, mulai 2007 setiap kendaraan

yang dijual di Indonesia harus memenuhi standar EURO 2.

Standar baru itu menetapkan ambang batas emisi gas buang yang disemprotkan

kendaraan bermotor. Untuk emisi karbon monoksida (CO), misalnya, ditetapkan

maksimal 2,2 gram per kilometer, diukur selama kendaraan beroperasi di jalan.

Patokan ini lebih rendah dibandingkan dengan standar Euro 1 yang 2,72 gram per

kilometer untuk gas yang sama.

Regulasi ramah lingkungan untuk menekan bahan pencemar udara itu disepakati

negara-negara Eropa sejak 1991, dengan kesepakatan EURO 1. Selanjutnya, pada

1996, mereka melangkah ke kesepakatan EURO 2 dengan menekan emisi gas buang

kendaraan bermotor hingga 30%.

Ahmad Safrudin mengingatkan, Indonesia akan semakin tertinggal jika tidak

segera melaksanakan ketetapan EURO 2. Sebab negara lain sudah melangkah ke

ketetapan EURO 3 yang dibuat tahun 2000, dengan pengurangan emisi partikel debu

sampai di bawah 20%. Berikutnya, mereka akan menyongsong ketetapan EURO 4,

dengan target emisi partikel menjadi di bawah 10%.

Ketetapan EURO dilaksanakan dengan melakukan perbaikan mutu bahan bakar dan

teknologi mesin kendaraan. Di negara-negara yang sudah menghapus bensin

bertimbal, mesin kendaraan dilengkapi peranti bernama catalitic coverter. Alat

ini berfungsi menyaring gas-gas pencemar hasil pembakaran, sehingga asap yang

keluar dari knalpot sudah ramah lingkungan.

Tapi alat itu akan rusak jika digunakan pada kendaraan yang masih menggunakan

bensin bertimbal. Keruan saja, asap yang disemburkan mesin-mesin kendaraan di

kota-kota besar Indonesia akan kian mengganas seiring kondisi lalu lintas yang

makin macet.

Pemecahan masalah pencemaran udara terutama oleh timbal sudah saatnya

dipikirkan bersama. Timbal kini diketahui sebagai bahan pencemar yang dapat

menyebabkan tragedi sosial akibat penurunan kecerdasan anak-anak. Kemampuan

akademis mereka bisa menurun, dan secara nasional bisa menjatuhkan kualitas

bangsa di masa datang. Itu berarti sebuah kehilangan generasi penerus.

Pencemaran udara memberi akibat kerugian berantai. Laporan studi Mitra Emisi

Bersih yang dilansir Oktober 2004 menyebutkan, masyarakat Jakarta harus

menanggung sekitar US$ 180 juta tiap tahun akibat polusi udara. Diprediksi,

biaya itu akan naik dua kali lipat dalam 10 tahun ke depan.

Biaya itu sebagian besar dibayarkan untuk berobat, akibat berjangkitnya

berbagai penyakit. Bahan polutan yang mencemari udara memang secara langsung

menggerogoti daya tahan tubuh dan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.

Kerugian lainnya adalah hilangannya pendapatan karena warga kota tidak dapat

bekerja gara-gara sakit. Menurut studi Mitra Emisi Bersih, gangguan polusi

udara menyebabkan rata-rata warga kota kehilangan 24 hari kerja pada 2004.

Kasus kematian akibat polusi tercatat mencapai 6.400 di kota-kota besar seluruh

Indonesia.

Paul Butarbutar, Senior Program Officer Clean Air Project Swisscontact Jakarta,

mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk serius menangani persoalan

lingkungan. Menurut dia, ada empat hal yang harus menjadi fokus perhatian

pemerintah. Pertama, penerapan standar emisi kendaraan yang lebih ketat. Kedua,

meningkatkan kualitas bahan bakar yang ramah lingkungan. Ketiga, peningkatan

upaya perawatan kendaraan, dan keempat penataan transportasi.

Upaya mengatasi ancaman polusi udara jangan sampai menunggu dampaknya yang

lebih gawat. Kata orang bijak, lebih baik mencegah daripada mengobati.